Krisis Ekonomi, Bagian dari Siklus yang Sulit Dihindarkan

Seperti halnya segala sesuatu di alam semesta ini, ekonomi juga memiliki siklus (29/09). Siklus
ekonomi tidak lepas dari situasi di mana ekonomi memburuk, mungkin untuk jangka saktu
panjang, atau mungkin untuk jangka waktu singkat. Sepanjang sejarah umat manusia, krisis demi
krisis ekonomi telah tercatatkan . Tercatat setidaknya lima krisis besar yang memberikan
pengaruh pada kehidupan umat manusia. Dalam tulisan kali ini akan diuraikan sejarah krisis
ekonomi yang memberikan pengaruh global.

Depresi Hebat Tahun 1930-an
Depresi Hebat. Hingga saat ini resesi yang terjadi di era tahun 1930-an masih dipercaya sebagai
yang terbesar yang pernah terjadi di seluruh dunia. Resesi pada masa ini menghantam hampir
seluruh negara di dunia. Menurut statistik, pada tahun 1932 sebanyak 30 juta orang telah
kehilangan pekerjaannya akibat krisis, jutaan lainnya terpaksa menerima pengurangan upah yang
signifikan. Masa-masa Depresi Hebat ini menghasilkan tingkat kematian yang tinggi, kelaparan,
dan peningkatan angka kejahatan.

Depresi Hebat menghantam ekonomi AS yang tidak siap. Bullish yang luar biasa di bursa saham,
kondisi ekonomi yang sedang berada di puncak, membuat rakyat terlena dan tidak menyadari
bahwa kondisi “bubble” suatu saat dapat pecah. Faktanya ekonomi AS telah menunjukkan tandatanda
melemah sejak tahun 1928. Kesempatan investasi mencapai batasnya seiring dengan
turunnya permintaan di paruh kedua periode 1920-an, terutama untuk perumahan dan barangbarang
konsumsi. Kondisi bullish yang dialami bursa saham AS juga merupakan kondisi
“bubble”, yang mencapai kulminasi pada tahun 1929.

Krisis Minyak Tahun 1970-an
Meskipun masa-masa setelah PD II merupakan sejarah kelam Eropa dan Jepang, akan tetapi
masa tersebut merupkan kejayaan AS, sebagai pemenang di perang bersejarah tersebut.
Nyatanya setelah Depresi Hebat, krisis selanjutnya yang menimpa AS adalah pada periode 1970-
an.

Pada tahun 1973 OPEC meningkatkan harga minyak dengan sangat tajam. Pada saat itu AS
merupakan negara yang memiliki ketergantungan terhadap supply minyak mentah OPEC.
Dengan makin mahalnya harga minyak, defisit perdagangan AS menjadi berkali-kali lipat untuk
membiayai impor minyak mentah. Sementara itu melemahnya nilai tukar dolar akibat defisit
perdagangan AS yang luar biasa telah membuat seluruh dunia kehilangan kepercayaan terhadap
mata uang tersebut. Libya bahkan menolak pembayaran minyak dengan dolar dan menuntut
pembayaran dengan emas. Krisis di tahun 1970 ini tidak terlalu besar dampaknya bagi dunia,
terutama bagi para produsen minyak yang justru menikmati kejayaan.
”Black Monday” Tahun 1987
Pada tanggal 19 Oktober 1987 indeks Dow Jones di bursa AS mengalami penurunan dari
2246.73 poin menjadi 1738.41 poin (22.6%). Penurunan ini merupakan yang terbesar sepanjang
sejarah, yang bahkan dua kali lipat melebihi penurunan saat crash pasar saham di tahun 1929.
Seiring dengan reaksi pasar saham di seluruh dunia, 900 miliar dolar nilai pasar menguap.
Hamcurnya pasar saham yang dikenal dengan nama “Black Monday” ini merupakan salah satu
krisis yang paling terkenal sepanjang sejarah umat manusia. Penyebab dari krisis ini dipercaya
karena agresivitas pasar yang berlebihan selama kurun waktu 1982 – 1987 tersebut.
Nasdaq “Bubble” dan Cerita Dotcom”Bubble”

Di awal periode 1990-an, cerita mengenai penemuan internet dan personal computer menjadi
yang paling baru. Kejayaan era ini merupakan imbas dari percepatan perkembangan teknologi
umat manusia. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan yang sangat tajam pada indeks teknologi,
Nasdaq. IPO yang luar biasa pernah tercatat adalah perusahaan TheGlobe.com, yang
mencatatkan peningkatan harga terbesar dalam satu hari perdagangan dalam sejarah IPO. Akhir
dari dotcom bubble ini adalah pada tahun 2001, yang mengakibakan resesi yang sedang.
Krisis Sub prime tahun 2007
Seperti yang jamak terjadi, “bubble” merupakan pertanda sesuatu yang akan pecah. Dengan
tingkat suku bunga yang sangat rendah pada periode 2001 – 2003, sektor perumahan AS
mengalami pergerakan yang luar biasa masif. Kondisi ini mengakibatkan orang-orang yang
memiliki sejarah kredit buruk berkesempatan memperoleh pinjaman.
Kondisi ini akhirnya memburuk seiring dengan maraknya gagal bayar di seluruh AS. Pertanda
awal dari krisis keuangan yang akhirnya menjadi yang terbesar setelah Depresi Hebat – yang
masih terjadi hingga saat ini, dan diharapkan baru akan membaik pada tahun 2010 – adalah
kolapsnya hedge fund Bear Stern pada bulan Agustus 2007 lalu. Seluruh dunia menjadi korban
dari krisis keuangan saat ini seiring dengan jebloknya permintaan dan harga komoditas.
Krisis Eropa

Cerita lanjutan krisis subprime ini ternyata menyimpan “peninggalan”. Sejak tahun 2010 lalu
akibat krisis yang bermula di AS ini, kondisi ekonomi Eropa turut memburuk, pasalnya
perbankan Eropa tidak luput dari eksposure terhadap ekonomi AS. Di samping itu hilangnya
pangsa pasar ekspor, yaitu AS yang terkena krisis juga turut menyulut lesunya ekonomi Eropa.
Hingga saat ini bahkan seiring dengan membaiknya ekonomi AS, Eropa justru memulai babak
baru krisis keuangan.
Pada awal tahun 2010 kekhawatiran mengenai pembengkakan utang di kawasan Uni Eropa telah
berkembang. Beberapa negara anggota Uni Eropa seperti Potugal, Irlandia, Italia, Yunani
(Greece), dan Spanyol atau yang biasa disingkat menjadi PIIGS merupakan negara-negara yang
memiliki nilai utang terbesar di kawasan Uni Eropa.

Penyebab utama dari membengkaknya utang dalam negeri Eropa, sebagai contoh Yunani, adalah
akibat minimnya control efektif terhadap anggaran pemerintah dan penerapan hukum yang
sangat minim terhadap seberapa besar suatu negara diperbolehkan untuk mengakumulasi utang.
Pada kasus seperti Spanyol penyebabnya bukan berupa ketidakdisiplinan terhadap anggaran,
akan tetapi memang akibat resesi yang mengakibatkan kolapsnya anggaran pemerintah di negara
tersebut.

Dengan demikian masalah yang menyebabkan utang pemerintah tersebut adalah sikap yang
buruk (ketidakdisiplinan terhadap anggaran), dan juga nasib buruk (resesi hebat). Permasalahan
menjadi semakin buruk karena negara-negara anggota Uni Eropa tidak memiliki kebebasan
untuk menetapkan kebijakan moneter di masing-masing negara. Apabila masing-masing negara
memiliki mata uang sendiri-sendiri, mereka dapat melakukan devaluasi dan menstimulasi ekspor.
Hal tersebut setidaknya dapat mengurangi tekanan dengan menghasilkan tambahan pendapatan.
Akan tetapi sayangnya dengan mata uang tunggal di Uni Eropa hal tersebut tidak dimungkinkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar