Bisnis Retail yang signifikan TERHADAP Perkembangan konsumen


Bisnis Retail yang signifikan TERHADAP
Perkembangan konsumen

 






























Oleh: Indra Bayuwega
Kelas 1EB18
NPM : 23211588









1. PENDAHULUAN

Bisnis ritel saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyak bermunculan bisnis ritel tradisional yang mulai membenah diri menjadi bisnis modern maupun bisnis modern sendiri yang baru lahir, di mana diketahui ciri bisnis tradisional yaitu kurangnya pemilihan lokasi yang tepat, tidak memperhitungkan potensi pembeli, jenis barang dagangan yang tidak terarah dan tidak ada seleksi merek.
Sedangkan ciri dari bisnis ritel modern yaitu lokasi strategis yang merupakan faktor penting dalam bisnis ritel, prediksi cermat terhadap potensi pembeli, pengelolaan jenis barang dagangan yang terarah,dan seleksi merek yang sangat ketat. Tersedianya sistem informasi yang canggih, memungkinkan bisnis ritel mampu menyediakan produk-produk baru, pelayanan yang sangat cepat, teliti, dan mampu memuaskan pelanggan. Perkembangan bisnis ritel didukung dengan adanya perkembangan usaha distribusi, jasa dan peluang pasar yang cukup terbuka, maupun upaya pemerintah untuk mendorong perkembangan usaha ritel melalui peraturandan undang-undang.
Bauran Ritel memiliki hubungan dengan keputusan pembelian. Loudon dan Bitta dalam Utami (2010:75) menyatakan bahwa “there are several factors influence consumer store choise behavior. They are include store location, physical design assortment, prices, advertising, sales promotion, personel and service”. Dari pengertian dapat diartikan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konsumen dalam memilih suatu toko, antara lain produk, harga, promosi, layanan, dan fasilitas fisik. Jadi konsumen akan memilih untuk berbelanja di toko tertentu saja, apabila konsumen merasa bauran ritel di toko tersebut sesuai prioritas konsumen.
Griya Batik merupakan toko yang menjual barang dagangan khususnya batik, Griya Batik juga memiliki dua toko, pertama yang terletak di MX Mall dan yang kedua di MATOS (Malang Town Square). Peneliti disini melakukan penelitian di toko Griya Batik MX Mall dikarenakan toko di MX Mall lebih lengkap menjual banyak pilihan dan ragam barang serta merupakan toko pertama Griya Batik yang memiliki banyak konsumen. Saat ini Griya Batik bersaing dengan butik batik lain yang ada di MX Mall dan MATOS serta butik batik lainnya yang ada di Kota Malang.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menjelaskan faktor-faktor yang menentukan Bauran Ritel; 2) pengaruh faktor Bauran Ritel secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian; 3) menjelaskan variabel manakah dalam faktor Bauran Ritel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ritel
Sopiah dan Syihabudin (dalam Tjiptono, 2008:225) menyatakan retailing merupakan semua kegiatan penjualan barang dan jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi dan rumah tangga, bukan untuk keperluan bisnis. Jika institusi pabrikan, wholesaler atau retailstore menjual sesuatu kepada konsumen akhir guna pemakaian non-bisnis, berarti telah melakukan penjualan eceran.
Ritel memiliki fungsi-fungsi penting yang dapat meningkatkan nilai produk dan jasa yang dijual kepada konsumen dan memudahkan distribusi produk-produk tersebut bagi pihak yang memproduksinya. Dalam meningkatkan nilai produk dan jasa yang dijual Utami (2010:12-14) dijelaskan tentang fungsi-fungsi tersebut yaitu: 1) Menyediakan berbagai macam produk dan jasa (assortment). 2) Memecah (breaking bulk). 3) Perusahaan Penyimpanan Persediaan (holding inventory). 4) Penghasil jasa (Providing Services). 5) Meningkatkan Nilai Produk dan Jasa
2.2 Bauran Ritel (Retailing Mix)
Bauran penjualan eceran adalah semua variabel yang dapat digunakan sebagai strategi pemasaran untuk berkompetisi pada pasar yang dipilih.Dalam penjualan eceran termasuk produk, harga, pajangan, promosi, penjualan secara pribadi dan pelayanan kepada konsumen (customer service). (Masson, Mayer, F. Ezzel dalam Foster, 2008:51)
Dunne Lusch dan Griffish (dalam Foster, 2008:51) mengemukakan bahwa Bauran penjualan eceran adalah kombinasi dari merchandise, harga, periklanan dan promosi, pelayanan konsumen dan penjualan, serta suasana toko dan desain toko yang digunakan untuk memuaskan konsumen.
2.3. Komponen Bauran Ritel

Komponen bauran ritel (retailing mix), Utami (2010:86) antara lain: (1) Produk; (2) Harga; (3) Promosi; (4) Pelayanan; (5) Fasilitas Fisik.
2.3.1 Produk
Produk adalah keseluruhan dari penawaran yang dilakukan secara normal oleh perusahaan kepada konsumen dalam memberikan pelayanan, letak toko, dan nama barang dagangannya. Konsumen akan memberikan kesan yang baik terhadap suatu toko apabila toko tersebut dapat menyediakan barang yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Oleh karena itu, peritel harus tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen (Utami, 2010:86)
“A product is a tangiable and intangiable attributes, including packaging, color, price, manufacturer’s and retailer,
wich the buyer may accept as offering want – satisfaction”. Produk adalah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud, termasuk didalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang menjual (pengecer), dan pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer, yang diterima pembeli guna memuaskan keinginannya. (Stanton dalam Alma, 2009:139).
2.3.2 Harga
Harga sangat berhubungan dengan nilai dasar dari persepsi konsumen berdasarkan dari keseluruhan unsur bauran ritel dalam menciptakan suatu gambaran dan pengalaman bertransaksi. Tingkat harga pada suatu toko dapat mempengaruhi cara berpikir konsumen terhadap unsur-unsur lain dari bauran ritel yaitu 1). Kebijakan Harga. Alma (2009:170) mengemukakan bahwa, kebijakan harga atau price policies ialah keputusan mengenai harga-harga yang akan diikuti untuk suatu jangka waktu tertentu. 2) Penetapan Harga. Alma (2009:174), mengemukakan bahwa dalam menentukan kebijakan harga ada 3 kemungkinan: a). Penetapan Harga di Atas Harga Saingan; b). Penetapan Harga di Bawah Harga Saingan; c). Mengikuti Harga Saingan.
Lewinson (dalam Foster, 2008:57), menyatakan bahwa “Penetapan harga jual yang layak memungkinkan penjual eceran mempunyai profit yang layak, sambil memberikan kepada konsumen suatu nilai kepuasan tertentu, baik sebelum, selama, maupun setelah penjualan.Konsumen yang memperhitungkan harga sebagai kriteria yang paling penting dalam memilih produk, sementara ada pula yang kurang memperhatikan harga.
2.3.4 Promosi
Promosi merupakan kegiatan yang mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku konsumen terhadap suatu toko ritel dengan segala penawarannya. Berman dan Evans (dalam Utami, 2010:88) membagi promosi dalam beberapa tipe, diantaranya: point of purchase, kontes, kupon, program belanja, undian, contoh gratis, demonstrasi, pemberian hadian yang diadakan pada peristiwa khusus.Promosi merupakan alat komunikasi untuk menghubungkan keinginan pihak peritel dengan konsumen untuk memberitahu, membujuk dan mengingatkan konsumen agar mau membeli produk yang dijual dari keuntungan dan manfaat yang diperolehnya.Para peritel harus dapat mendukung dan memperkuat posisi badan usahanya dipasar.
Kotler (dalam Foster, 2008:67), menyatakan bahwa promosi mempunyai lima peringkat utama yaitu: iklan (advertising), penjualan secara langsung (direct selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relations) dan penjualan tatap muka (personal selling).”
2.3.5 Fasilitas Fisik
Fasilitas fisik merupakan faktor penentu dalam mendominasi pangsa pasar yang diinginkan oleh perusahaan, karena penguasaan pasar dapat dicapai apabila perusahaan mendapat kedudukan yang baik sehingga dapat menciptakan citra perusahaan bagi para konsumennya. Secara spesifik, beberapa elemen penting yang dapat lebih menonjolkan citra dari suatu toko yaitu beberapa arsitektur yang baik, desain eksterior dan interior yang menarik, sumber daya manusia yang memadai, penyediaan barang yang baik, lambang dan logo, penempatan lokasi dan nama toko yang dapat menarik perhatian.
Nama toko berperan penting karena sebagian besar dari elemen tersebut berkaitan dengan peritel yang ditampilkan secara fisik.Adapun faktor-faktor lain yang harus di- pertimbangkan yaitu kestrategisan, apakah daerah tersebut dapat dijadikan pusat
bisnis atau bukan dan bagaimana arus lalu lintasnya. Arus lalu lintas mempengaruhi penempatan lokasi toko ritel karena dapat menarik konsumen untuk mengunjungi atau berbelanja di toko (Utami, 2010:91).
Fasilitas fisik mempunyai peran penting untuk memposisikan toko ritel dalam benak konsumen.fasilitas fisik dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1). Lokasi Toko; 2). Tata Letak Toko; 3). Desain Toko.
2.3.6 Pelayanan
Pelayanan merupakan suatu kegiatan untuk dilayani. Pelayanan tentunya berhubungan dengan penjualan produk yag akan dibeli konsumen. Misalnya pemberian fasilitas alternatif pembayaran, pemasangan perlengkapan, merubah model untuk pakaian dan sebagainya.
Dunne Lusch dan Griffin (dalam Foster, 2008:53), menyatakan bahwa pelayanan yang berkualitas tinggi dapat menggunakan program relationship retailing yang di dalamnya termasuk desain menarik untuk menarik, memelihara, dan meningkatkan customer relationship.
Dunne Lusch dan Griffin (dalam Foster, 2008:53), menyatakan bahwa pelayanan kepada konsumen dilakukan pedagang eceran untuk memberikan: 1) Pre transaction service; 2) Transaction service; 3) Past transaction service.
2.4 Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Dalam keputusan membeli barang, seringkali ada dua pihak atau lebih yang terlibat dalam proses pertukaran atau pembelian. Pemasar perlu mengetahui siapa yang terlibat dalam keputusan membeli dan peran yang dimainkan oleh setiap orang. (Schiffman & Kanuk dalam Sumarwan 2002:289).
Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Setiap keputusan membeli mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh komponen. Menurut Swasta dan Irawan (2008:118), komponen tersebut: 1) Keputusan tentang Jenis Produk; 2). Keputusan tentang Bentuk Produk; 3). Keputusan tentang Merek; 4). Keputusan tentang Penjualnya; 5). Keputusan tentang Jumlah Produk; 6). Keputusan tentang Waktu Pembelian; 7). Keputusan tentang Cara Pembayaran
2.5 Hubungan Bauran Ritel dengan
Keputusan pembelian
Loudon dan Bitta (dalam Utami, 2010:75) menyatakan bahwa “There are several factors influence consumer store choise behavior. They are include store location, physical design assortment, prices, advertising, sales promotion, personel and service”. Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konsumen dalam memilih suatu toko, antara lain produk, harga, promosi, layanan, dan fasilitas fisik. Jadi konsumen akan memilih untuk berbelanja di toko atau tempat tertentu saja, apabila konsumen merasa bauran ritel di toko tersebut sesuai dengan prioritas konsumen, contohnya jika konsumen dalam berbelanja mengutamakan kenyamanan dan layanan yang memuaskan, maka konsumen akan memilih dan berbelanja di toko yang dapat memenuhi keinginannya tersebut.
2.6 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Faktor Bauran Ritel yang terdiri dari Produk, Harga, Promosi, Fasilitas Fisik, dan Pelayanan secara bersama-samaberpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
2) Faktor Bauran Ritel yang terdiri dari Produk, Harga, Promosi, Fasilitas Fisik, dan Pelayanan secara parsial


berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
3) Faktor Harga berpengaruh dominan terhadap variabel Keputusan Pembelian.

3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research). Penelitian ini terdiri atas variabel bebas yaitu bauran ritel atau (retailing mix) yang meliputi: Produk, Harga, Promosi, Presentasi, Pelayanan dan variable terikatnya keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua konsumen yang sedang berbelanja di Griya Batik MX Mall kota Malang dan yang pernah melakukan pembelian. Jumlah sampel dalam penelitian ini sejumlah 100 orang sampel. Pada penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data yang berupa kuesioner
3.2 Uji Validitas dan Reliabilitas

Setelah dilakukan penyebaran kuesioner untuk diuji coba, semua data yang diolah menunjukkan valid dan reliabel untuk itu penelitian bisa dilanjutkan ketahap berikutnya. Berikut hasil uji validitas dan reliabilitas 100 responden:
1) Variabel produk (X1) dengan total pearson correlation: (X1.1) 0,912; (X1.2) 0,878; (X1.3) 0,910 dan Alpha Cronbach’s 0,881.
2) Variabel Harga (X2) dengan total pearson correlation: (X2.1) 0,792; (X2.2) 0,879; (X2.3) 0,833 dan Alpha Cronbach’s 0,783.
3) Variabel Promosi (X3) dengan total pearson correlation’s (X3.1) 0,833; (X3.2) 0,864; (X3.3) 0,856; (X3.4) 0,867; (X3.5) 0,859 dan Alpha Cronbach’s 0,909.
4) Variabel Fasilitas Fisik (X4) dengan total pearson correlation: (X4.1) 0,786;
(X4.2) 0.839; (X4.3) 0,868; (X4.4) 0.890; (X4.5) 0,851 dan Alpha Cronbach’s 0,902.
5) Variabel Pelayanan (X5) dengan total pearson correlation: (X5.1) 0,916; (X5.2) 0,930; (X.5.3) 0,919; (X5.4) 0,867; (X5.5) 0,891 dan Alpha Cronbach’s 0,944.
6) Variabel Keputusan Pembelian (Y) dengan total pearson Correlation (Y1) 0,944; (Y2) 0,947; (Y3) 0,929 dan Alpha Cronbach 0,934.

4. HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Distribusi Frekuensi Responden
Penelitian dilakukan di Griya Batik MX Mall Malang kepada 100 orang responden yang merupakan konsumen Griya Batik. Dari hasil penelitian terdapat 53 orang responden berjenis kelamin laki-laki dan 47 responden berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan usia responden, 12 orang responden berusia 23-28 tahun, 36 responden berusia 23-28tahun, 18 responden berusia 35-40 tahun, 5 responden berusia 41-46 tahun, 2 responden berusia 47-52tahun dan 1 responden berusia lebih dari 53 tahun.
Berdasarkan profesi responden, 11 responden berprofesi sebagai PNS, 47 responden berprofesi sebagai pegawai swasta, 20 orang responden berprofesi sebagai wiraswasta dan sisanya 22 responden berprofesi lainnya. Berdasarkan penghasilan perbulan responden, 15 responden berpenghasilan kurang dari 1.500.000, 41 responden berpenghasilan 1.500.000 – 3.000.000, 22 responden berpenghasilan 3.000.000 – 4.500.000, 9 responden berpenghasilan 4.500.000 – 6.000.000, 4 responden berpenghasilan 6.000.000 – 7.500.000, 2 responden berpenghasilan lebih dari 7.500.000 dan 7 orang responden tidak mencantumkan berapa penghasilan perbulannya.


4.2 Hasil Analisis Faktor
Hasil dari rotasi faktor menunjukkan bahwa indikator (X5.1), (X5.2), (X5.3), (X5.4), (X5.5) dan indikator (X3.1), (X3.2), (X3.3), (X3.4), (X3.5) tidak mengalami perpindahan identifikasi faktor, sedangkan untuk indikator (X4.1), (X4.2), (X4.3), (X4.4), (X4.5) berpindah dari indentifikasi faktor 1 ke identifikasi faktor 3, indikator (X1.1), (X1.2), (X1.3), berpindah dari identifikasi faktor 5 ke indentifikasi faktor 4 serta indikator (X2.1), (X2.2), (X2.3) berpindah dari identifikasi faktor 4 ke identifikasi faktor 5.
4.3 Hasil Analisis Regresi

4.3.1 Analisis Regresi Berganda
Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa faktor Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), Fasilitas Fisik (X4) dan, Pelayanan (X5) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian dengan nilai sebesar 22,854 sehingga keputusan terhadap Hipotesis (1) yang diajukan bahwa ada pengaruh faktor Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), Fasilitas Fisik (X4) dan, Pelayanan (X5) terhadap keputusan pembelian diterima yang artinya bahwa faktor Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), Fasilitas Fisik (X4) dan, Pelayanan (X5) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
4.3.2 Analisis Regresi Parsial
Dari kelima variabel bebas tersebut, faktor Promosi (X3) mempunyai nilai beta tertinggi yaitu 0,308 dibandingkan dengan faktor Produk (X1), Promosi (X3), Fasilitas Fisik (X4) dan, Pelayanan (X5).Hal ini berarti faktor tersebut merupakan faktor yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian. Besarnya pengaruh untuk setiap variabel dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Faktor Produk (X1)

Hasil analisis regresi menunjukkan faktor Produk mempunyai nilai koefisien regresi (B) 0,303; mean terbesar terdapat pada indikator Kualitas Produk (X1.2) sebesar 4,27 dan indikator Keragaman Jenis Produk (X1.3) sebesar 4,27 dengan sebesar 2,411 dan probabilitas 0,018 (P<0,05) sehingga Ho ditolak. Secara parsial faktor-faktor produk yang terdiri dari kualitas produk, ketersediaan produk dan, keragaman jenis produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
2) Faktor Harga (X2)

Hasil analisis regresi menunjukkan faktor Harga mempunyai nilai koefisien regresi (B) 0,477; mean terbesar terdapat pada indikator Potongan harga atau diskon (X2.3) sebesar 4,51 dengan sebesar 3,348 dan probabilitas 0,001 (P<0,05) sehingga Ho ditolak. Secara parsial faktor-faktor Harga yang terdiri dari harga produk sesuai kualitas, harga yang ditawarkan lebih murah dan, potongan harga atau diskon berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
3) Faktor Promosi (X3)

Hasil analisis regresi menunjukkan faktor Promosi mempunyai nilai koefisien regresi (B) 0,282; mean terbesar terdapat pada indikator Media Promosi yang digunakan (X3.1) sebesar 4,22 dan indikator Banner sebagai media iklan (X3.5) sebesar 4,22 dengan sebesar 4,161 dan probabilitas 0,000 (P<0,05) sehingga Ho ditolak. Secara parsial faktor-faktor promosi yang terdiri dari media promosi yang digunakan, iklan yang dibuat menarik perhatian, pesan iklan mudah dipahami, penggunaan display sebagai media iklan, penggunaan banner
sebagai media iklan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
4) Faktor Fasilitas Fisik (X4)

Hasil analisis regresi menunjukkan faktor Fasilitas Fisik mempunyai nilai koefisien regresi (B) 0,195; mean terbesar terdapat pada indikator Penerangan menyeluruh (X4.5) sebesar 4,33 dengan sebesar 2,369 dan probabilitas 0,020 (P<0,05) sehingga Ho ditolak. Secara parsial faktor-faktor fasilitas fisik yang terdiri dari kemudahan menemukan barang yang diinginkan, display etalase yang menarik, warna interior yang menarik, musik yang tepat dan penerangan yang menyeluruh berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
5) Faktor Pelayanan (X5)

Hasil analisis regresi menunjukkan faktor pelayanan mempunyai nilai koefisien regresi (B) 0,259; mean terbesar terdapat pada indikator Kemudahan Melakukan Pembayaran (X5.4) sebesar 4,39dengan sebesar 3,408 dan probabilitas 0,001 (P<0,05) sehingga Ho ditolak. Secara parsial faktor-faktor pelayanan yang terdiri dari ketanggapan karyawan, sikap karyawan, penampilan karyawan, kemudahan pembayaran dan kemudahan memesan produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian.
5. PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan 2 teknik analisis yaitu Analisis Faktor dan Analisis Regresi Linier Berganda. Setelah dilakukan analisis faktor diketahui tidak ada perubahan jumlah faktor yang membentuk Bauran Ritel yaitu 5 faktor. Hasil analisis faktor terdapat terdapat 21 indikator yang membentuk 5 faktor yaitu Produk (X1) dengan 3 indikator, Harga (X2) dengan 3 indikator, Promosi (X3) dengan 5 indikator, Fasilitas Fisik (X4) dengan 5 indikator dan, Pelayanan (X5) dengan 5 indikator.
5.1 Faktor-faktor yang membentuk
Bauran Ritel (Retailing Mix)
Kontribusi dari masing-masing faktor yang terbentuk dapat dijelaskan seperti berikut:
1) Faktor 1: Pelayanan, menunjukkan bahwa faktor Pelayanan dengan Eigenvalue 2,168 persentase varian 10,326 dan persentase kumulatif 77,266%.
2) Faktor 2: Promosi, menunjukkan bahwa faktor Promosi dengan Eigenvalue 3,693, persentase varian 17,585 dan persentase kumulatif 55,464%.
3) Faktor 3: Fasilitas Fisik menunjukkan bahwa faktor Fasilitas Fisik dengan Eigenvalue 2,410 persentase varian 11,476 dan persentase kumulatif 66,940%.
4) Faktor 4: Produk, menunjukkan bahwa faktor Produk dengan Eigenvalue 4,220 persentase varian 20,097 dan persentase kumulatif 20,097%.
5) Faktor 5: Harga, menunjukkan bahwa faktor Harga dengan Eigenvalue 4,734 persentase varian 17,782 dan persentase kumulatif 37,879%.
6) Dalam faktor yang telah disebutkan tidak ada indikator yang dieliminasi atau dibuang karena semua indikator memiliki loading factor lebih dari 0.5 (>0.5).

5.2 Pengaruh Variabel Bauran Ritel
Terhadap Keputusan Pembelian
Dari hasil analisis regresi, dapat diketahui bahwa faktor Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), Fasilitas Fisik (X4) dan, Pelayanan (X5) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian dengan nilai sebesar
22,854 dan tingkat signifikansi 0,0000 (P<0,05). Untuk hasil analisis regresi parsial, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Pengaruh Faktor Produk (X1) terhadap Keputusan Pembelian (Y).

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial faktor Produk (X1) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Pembelian (Y). hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi (B) 0,303 dengan sebesar 2,411 dan probabilitas 0,018 (P<0,05) sehingga hipotesis (1) diterima, maka hipotesis yang menyatakan faktor Kualitas Produk (X1.1), Ketersediaan Produk (X1.2) dan, Keragaman Jenis Produk (X1.3) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Keputusan Pembelian (Y) diterima.
2) Pengaruh Faktor Harga (X2) Terhadap Keputusan Pembelian

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial faktor Harga mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Pembelian (Y). hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi (B) 0,477 dengan sebesar 3,348 dan probabilitas 0,001 (P<0,05) sehingga hipotesis (1) diterima, maka hipotesis yang menyatakan faktor Harga Produk sesuai dengan kualitas (X2.1), Harga yang ditawarkan lebih murah (X2.2), Potongan Harga atau diskon (X2.3) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Keputusan Pembelian (Y) diterima.
3) Pengaruh Faktor Promosi (X3) Terhadap Keputusan Pembelian

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsialfaktor Promosi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Pembelian (Y). hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi (B) 0,282 dengan sebesar 4,161 dan probabilitas 0,020 (P<0,05) sehingga hipotesis (1) diterima, maka hipotesis yang menyatakan faktor Media Promosi yang digunakan tepat (X3.1), Iklan yang dibuat menarik perhatian (X3.2), Pesan Iklan mudah dipahami (X3.3), Penggunaan display sebagai media iklan (X3.4) dan, Penggunaan banner sebagai media iklan (X3.5) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Keputusan Pembelian (Y) diterima.
4) Pengaruh Faktor Fasilitas Fisik (X4) Terhadap Keputusan Pembelian

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial faktor Fasilitas Fisik mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Pembelian (Y). hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi (B) 0,195 dengan sebesar 2,369 dan probabilitas 0,000 (P<0,05) sehingga hipotesis (1) diterima, maka hipotesis faktor Kemudahan menemukan barang yang diinginkan (X4.1), Display etalase yang menarik (X4.2), Warna Interior yang menarik (X4.3), Musik yang tepat (X4.4) dan, Penerangan yang menyeluruh (X4.5) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Keputusan Pembelian (Y) diterima.
5) Pengaruh Faktor Pelayanan (X5) Terhadap Keputusan Pembelian

Berdasarkan hasil perhitungan secara parsial faktor Pelayanan mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Pembelian (Y). hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi (B) 0,259 dengan sebesar 3,408 dan probabilitas 0,001 (P<0,05) sehingga hipotesis (1) diterima, maka hipotesis yang menyatakan faktor Ketanggapan Karyawan (X5.1), Sikap Karyawan (X5.2), Penampilan Karyawan (X5.3), Kemudahan Pembayaran (X5.4) dan, Kemudahan Memesan Produk (X5.5) berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Keputusan Pembelian (Y) diterima.
5.3 Variabel yang Berpengaruh
Untuk mengetahui Variabel Bauran Ritel (X) yang dominan berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian (Y) dapat dilihat pada nilai tertinggi koefisien (B) dari hasil pengujian Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), Fasilitas Fisik (X4) dan, Pelayanan (X5) terhadap Keputusan Pembelian (Y). Diketahui bahwa variabel Harga (X2) mempunyai nilai beta tertinggi yaitu 0,477 dibanding dengan variabel yang lain. dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini (H:3) yang menyatakan bahwa “Harga (X2) mempunyai pengaruh dominan terhadap Keputusan Pembelian pada Griya Batik” dinyatakan dapat diterima.
6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Pengaruh Bauran Ritel (Retailing Mix) Terhadap Keputusan Pembelian, peneliti dapat menyimpulkan bahwa:
1) Terdapat lima faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian yaitu faktor Produk, Harga, Promosi, Fasilitas Fisik, dan, Pelayanan.
2) Faktor Produk, Harga, Promosi, Fasilitas Fisik, dan, Pelayanan memiliki pengaruh secara bersama-sama yang signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai 22.854 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.0000 (P<0.05).
3) Kelima faktor yang terbentuk memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian. Faktor Produk dengan sebesar 2.411 dan tingkat signifikansi 0.018 (P<0.05), Faktor Harga dengan sebesar 3.348 dan tingkat signifikansi 0.001 (P<0.05), Faktor Promosi dengan sebesar 4.161 dan tingkat signifikansi 0.000 (P<0.05), dan Faktor Fasilitas Fisik dengan sebesar 2.369 dan tingkat
signifikansi 0.020 (P<0.05), serta Faktor Pelayanan dengan sebesar 3.408 dan tingkat signifikansi 0.001 (P<0.05),
4) Faktor Harga memiliki pengaruh yang dominan terhadap keputusan pembelian karena memiliki nilai beta peling tinggi yaitu sebesar 0,477.

6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran, sebagai berikut:
1. Variabel Produk, Harga, Promosi, Fasilitas Fisik dan Pelayanan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian, diharapkan toko Griya Batik terus meningkatkan kualitas dari segi Produk, Harga, Promosi, Fasilitas Fisik dan Pelayanan untuk membantu meningkatkan pembelian.
2. Variabel Harga merupakan variabel yang mempunyai pengaruh dominan. Menanggapi kondisi ini pihak toko Griya Batik sebaiknya tetap mempertahankan pada segi harga yang sudah ada.
3. Tetap menjaga kualitas produk, pelayanan, fasilitas fisik, harga dan promosi agar konsumen semakin banyak yang datang dan meningkatkan omset penjualan di Griya Batik.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.
Buchari, Alma. 2009. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta.
Foster, Bob. 2008. Manajemen Ritel. Bandung: Alfabeta.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2007. Manajemen


Pemasaran.Terjemahan oleh Benyamin Molan.Edisi Kedua belas.Jilid 2. Jakarta: Indeks.
Machin, David and Michael J Chambell. 1987. Statistical Tabel for the Design of Clinical Trial. Oxford London: Blackwell Scientific Publication.
Simamora, Bilson. 2004. Riset Pemasaran Filsafah Teori dan Aplikasi.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Tama.
Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. 2006. Metode Penelitian Survai. Edisi Revisi. Cetakan Kedelapan Belas. Jakarta: LP3ES.
Sopiah dan Syihabudin. 2008. Manajemen Bauran Ritel. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Swasta, Basu dan Irawan. 2008. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta.Liberty Offset.

Utami, Christina Whidya. 2010. Manajemen Ritel. Jakarta: Salemba Empat.

Bisnis Retail

Bisnis Retail
Nama                   : Indra Bayuwega
NPM           : 23211588
Kelas          : 1EB18
PENDAHULUAN
1.1           LATAR BELAKANG
Bisnis Ritel di Indonesia secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu, ritel modern dan ritel tradisional. Ritel modern merupakan pengembangan dari ritel tradisional yang pada praktiknya mengaplikasikan konsep yang modern, pemanfaatan teknologi, dan mengakomodasi perkembangan gaya hidup di masyarakat (konsumen).
Persaingan sengit dalam industri ritel telah melanda negara-negara maju sejak abad yang lalu, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Persaingan terjadi terutama antara usaha ritel tradisional dan ritel modern (supermarket dan hipermarket). Namun, menjelang dekade akhir milenium lalu persaingan telah meluas hingga ke negara-negara berkembang, di mana deregulasi sektor usaha ritel yang bertujuan untuk meningkatkan investasi asing langsung (IAL) telah berdampak pada pengembangan jaringan supermarket (Reardon & Hopkins 2006). Reardon et al (2003) menemukan bahwa sejak 2003 pangsa pasar supermarket di sektor usaha ritel makanan di banyak Negara berkembang seperti Korea Selatan, Thailand, Taiwan, Meksiko, Polandia, dan Hongaria telah mencapai 50%. Di Brazil dan Argentina, di mana perkembangan supermarket telahlebih dulu dimulai, pangsa pasarnya mencapai sekitar 60%. Traill (2006) menggunakan berbagai asumsi dan memprediksi bahwa menjelang 2015, pangsa pasar supermarket akan mencapai 61% di Argentina, Meksiko, dan Polandia; 67% di Hongaria; dan 76% di Brazil.

Sejarah ritel modern di Indonesia dimulai dari tahun 1960-an. Pada saat itu muncul Department Store pertama yaitu Sarinah yang berada di pusat Jakarta. Dalam kurun waktu 15 tahun setelahnya, bisnis retail di Indonesia dapat dikatakan tidak berkembang cukup pesat atau berkembang dalam level yang sangat rendah. Hal ini dikarenakan dengan kebijakan ekonomi Bapak Soeharto pada awal masa pemerintahan Orde Baru yang lebih banyak membangun investasi di bidang eksploitasi hasil alam (tambang & tembakau), disbanding dengan sector usaha ritel barang dan jasa.

Awal tahun 1990-an menjadi titik awal perkembangan bisnis ritel di indonesia. Ditandai dengan mulai beroperasinya salah satu perusahaan ritel besar dari Jepang yaitu "SOGO". Selanjutnya dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 99/1998, yang menghapuskan larangan investor dari luar untuk masuk ke dalam bisnis ritel di indonesia, perkembangannya menjadi semakin pesat.


Dan bisnis retail ini sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi daerah bahkan ekonomi nasional. Karena pendapatan yang dihasilkan sangatlah besar. Bahkan mencapai >10% dari pendapatan nasional dihasilkan oleh bisnis retail yang tersebar di seluruh kota di Indonesia.

1.2    TUJUAN
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bisnis retail serta pengaruh bisnis retail terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ataupun ekonomi nasional. Dan juga bisnis-bisnis retail yang signifikan dengan pertumbuhan pasar rumah tangga, pasar komoditi, dan sector swasta.

PEMBAHASAN
B
isnis Ritel secara umum adalah kegiatan usaha menjual aneka barang atau jasa untuk konsumsi langsung atau tidak langsung. Dalam matarantai perdagangan bisnis ritel merupakan bagian terakhir dari proses distribusi suatu barang atau jasa dan bersentuhan langsung dengan konsumen.
Bisnis Ritel di Indonesia sebenarnya terbagi menjadi dua, yaitu Ritel Tradisional dan Ritel Modern. Namun seiring berjalannya waktu, ritel tradisional banyak ditinggalkan oleh para konsumen. Sehingga peningkatan bisnis ritel modern di Indonesia melonjak tajam.
Adapun perbedaan bisnis retail tradisional dengan bisnis retail modern adalah bisnis retail tradisional adalah bisnis yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yangdimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Seperti pasar tradisional, toko kelontong, dan lain-lain. Sedangkan bisnis retail modern berdasarkan definisi yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI No. 112/Th. 2007, adalah:

1.      Minimarket :
- Produk dijual : kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.
- Jumlah produk : < 5000 item
- Luas gerai : maks. 400m2
- Area Parkir : terbatas
- Potensi penjualan : maks. 200 juta
2. Supermarket:
- Produk dijual : kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian.
- Jumlah produk : 5000-25000 item
- Luas gerai : 400-5000m2
- Area Parkir : sedang (memadai)
- Potensi penjualan : 200 juta- 10 milliar

3. Hypermarket:
- Produk dijual : kebutuhan rumahtangga, makanan dan termasuk kebutuhan harian, textile, fashion, furniture, dll.
- Jumlah produk : >25000 item
- Luas gerai : > 5000 m2
- Area Parkir : sangat besar
- Potensi penjualan : > 10 milliar
            Banyak perbedaan yang dihadirkan bisnis rital tradisional maupun bisnis ritail modern. Sehingga kini di kabupaten atau kota bahkan desa di Indonesia, “bisnis retail” terlebih bisnis ritel modern mulai banyak dilirik kalangan pengusaha, sebab memiliki pengaruh positif terhadap jumlah lapangan pekerjaan dan keuntungannya yang menjanjikan.

Dalam 6 tahun terakhir, perkembangan ketiga format modern market di atas sangatlah tinggi. konsepnya yang modern, adanya sentuhan teknologi dan mampu memenuhi perkembangan gaya hidup konsumen telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan market tradisional. Selain itu atmosfer belanja yang lebih bersih dan nyaman, semakin menarik konsumen dan dapat menciptakan budaya baru dalam berbelanja.

Munculnya konsep ritel baru seperti hipermarket, supermarket, dan minimarket, yang termasuk ke dalam jenis ritel modern (pasar modern) merupakan peluang pasar baru yang dinilai cukup potensial oleh para pebisnis ritel, namun dilain sisi dapat mengancam keberadaan pasar tradisional yang belum dapat bersaing dengan pasar modern terutama dalam hal manajemen usaha dan permodalan. Dari waktu ke waktu jumlah pasar modern cenderung mengalami pertumbuhan positif sedangkan pasar tradisional cenderung mengalami pertumbuhan negatif.


Dalam periode enam tahun terakhir, dari tahun 2007–2012, jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 17,57% per tahun. Pada tahun 2007, jumlah usaha ritel di Indonesia masih sebanyak 10.365 gerai, kemudian pada tahun 2011 mencapai 18.152 gerai tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan jumlah gerai tersebut tentu saja diikuti dengan pertumbuhan penjualan.
Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Bisnis ritel lebih cepat tumbuh di pinggiran kota, karena banyaknya pemukiman di lokasi tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Berdasarkan sebaran geografisnya, gerai-gerai Pasar Modern tersebut terkonsentrasi di Pulau Jawa. Pada 2008, dari sekitar 11.866 gerai Pasar Modern, sekitar 83% diantaranyaberlokasi di Pulau Jawa (Tabel 4). Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur senantiasa menjadi daerah dengan jumlah gerai Pasar Modern terbanyak. Terkonsentrasinya gerai-gerai Pasar Modern di Pulau Jawa tidak lepas dari kondisi dimana konsentrasi penduduk dan pusat perekonomian Indonesia memang berada di pulau ini
Menurut survei Nielsen dalam Hartati (2006), jumlah pusat perdagangan modern di Indonesia, baik hipermarket, supermarket, minimarket, hingga convenience store, meningkat hampir 7,4% selama periode 2003-2005. Dari total 1.752.437 gerai pada tahun 2003 menjadi 1.881.492 gerai di tahun 2005. Hal tersebut justru berbanding terbalik dengan pertumbuhan ritel tradisional yang tumbuh negatif sebesar delapan persen per tahunnya selama periode tahun 2003-2005.
Sekalipun mengalami penurunan jumlah toko yang menjual barang-barang konsumen sebesar 1,3 persen dari tahun 2010, jumlah toko di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia setelah India. Jumlah toko (tradisional dan modern) di Indonesia mencapai 2,5 juta took hal ini dikutip dari Nielsen Executive Director Retail Measurement Services Teguh Yunanto pada tanggal 15/3/2011.
Untuk penyebaran toko, paling banyak di Pulau Jawa dengan 57 persen, dan Sumatera dengan 22 persen, sisanya 21 persen ada di pulau lain. Namun, Teguh menjelaskan, ritel lebih tumbuh di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. Daerah inilah yang menjadi target dari ritel modern jenis minimarket.
Ritel modern tumbuh 38 persen dengan 18.152 toko di Indonesia, dibandingkan tahun 2009. Dari jumlah tersebut, sekitar 16.000 toko merupakan minimarket. Namun format ritel modern lainnya, seperti supermarket justru turun 6 persen, sedangkan hypermarket tumbuh 23 persen dengan 154 toko
Meskipun dinilai memiliki potensi besar seiring daya beli masyarakatnya yang semakin meningkat, pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia pada 2013 diprediksikan tidak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2013, pertumbuhan bisnis ini berkisar antara 8-9 persen, lebih rendah dari 11-12 persen pada 2011-2012.
Menurut Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia antara 10%–15% per tahun. Penjualan ritel pada tahun 2006 masih sebesar Rp49 triliun, dan melesat hingga mencapai Rp120 triliun pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2012, pertumbuhan ritel diperkirakan masih sama, yaitu 10%–15%, atau mencapai Rp138 triliun. Jumlah pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari hipermarket, kemudian disusul oleh minimarket dan supermarket
Kota dan Kabupaten Bogor sebagai kawasan pemukiman penduduk yang merupakan daerah penyangga Jakarta, menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan pasar modern yang cukup pesat selama periode tahun 1997- 2008. Dengan populasi penduduk terbesar di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor yang pada tahun 2007 jumlah penduduknya mencapai 4.316.216 jiwa, menjadi kawasan yang menjanjikan dalam perkembangan bisnis ritel. Begitupun dengan Kota Bogor yang pada tahun 2007 jumlah penduduknya mencapai 866.034 jiwa.
Penelitian ini menganalisis laju pertumbuhan pasar tradisional dan pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor serta faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan jumlah pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis panel data menggunakan data sekunder berupa jumlah pasar modern dan tradisional, populasi penduduk, jumlah rumah tangga, tingkat pendapatan per kapita, jumlah jalan diaspal, potensi listrik negara (daya terpasang) di Kota dan Kabupaten Bogor selama tahun 1997-2008. Hasil analisis menunjukan bahwa pertumbuhan pasar modern di Kota Bogor pada periode tahun 1998-2003 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pasar modern di Kabupaten Bogor. Sedangkan pada periode tahun 2003-2008, dimana era booming pasar modern mulai berlangsung, pertumbuhan pasar modern di Kota Bogor lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar modern di Kabupaten Bogor.
Jumlah pasar tradisional di Kota Bogor pada periode tahun 1998-2003 mengalami pertumbuhan positif sedangkan di Kabupaten Bogor mengalami pertumbuhan yang stagnan atau tidak terjadi pertumbuhan pasar tradisional pada periode tersebut. Namun pada periode tahun 2003-2008 pertumbuhan pasar tradisional di Kota Bogor mengalami pertumbuhan yang negatif. Sedangkan pertumbuhan pasar tradisional di Kabupaten Bogor pada periode tahun 2003-2008 mengalami pertumbuhan yang positif, dimana jumlah pasar tradisional bertambah sebanyak satu unit pada periode tersebut. Faktor yang berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan pasar modern di Kota dan Kabupaten Bogor adalah populasi penduduk, jumlah rumah tangga dan tingkat pendapatan per kapita. Kenaikan pada populasi penduduk, jumlah rumah tangga, dan pendapatan per kapita di Kota dan Kabupaten Bogor menyebabkan jumlah pasar modern di Kota dan Kabupaten semakin meningkat.
Oleh karena itu, bisnis retail sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Karena penghasilan dari suatu bisnis retail, terlebih bisnis retail modern dapat membantu pendapatan jumlah per-kapita pada suatu daerah tertentu. Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita. Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Meningkatnya jumlah pendapatan perkapita itu dapat membantu suatu daerah untuk membangun kualitas SDM yang terdapat di sana. Serta beberapa persen pendapatan bisnis retail tersebut dapat disalurkan ke pendapatan nasional.

Di jawa timur, lebih dari 16% hasil dari penjualan pada bisnis retail disumbangkan untuk pendapatan nasional. Padahal Jwa Timur bukan kota besar dan jumlah bisnis retail di sana tidaklah begitu banyak. Bayangkan berapa banyak hasil yang dihasilkan oleh kota besar seperti Jakarta untuk disumbangkan ke dalam pendapatan nasional. Bahkan sekarang banyak bisnis retail asing yang menanam saham di Indonesia. Maraknya bisnis retail ini di Indonesia dapat membantu pertumbuhan ekonomi di daerah maupun nasional.
Bisnis retail pun sangat signifikan dengan pertumbuhan pasar rumah tangga, pasar komoditi, dan sector swasta. Namun sekarng ini lebih banyak ditemukan bisnis dalam pasar rumah tangga. Dilihat dari berbagai macam hypermarket hingga supermarket yang terus bersaing dalam pasar.
Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta merupakan pasar potensial bagi bisnis ritel modern. Dalam sepuluh tahun terakhir bisnis ritel modern dengan format hypermarket, supermarket dan minimarket menjamur, menyusul maraknya pembangunan mall atau pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Peritel besar seperti hypermarket dan department store menjadi anchor tenant yang dapat menarik minat pengunjung. Bahkan kini bisnis ritel mulai merambah ke kota-kota kabupaten terutama jenis supermarket dan minimarket. Saat ini bisnis ritel tumbuh pesat di pinggiran kota, mengingat lokasi permukiman banyak di daerah tersebut. 

Dengan dibukanya pintu masuk bagi para peritel asing sebagaimana Keputusan Presiden No. 118/2000 yang telah mengeluarkan bisnis ritel dari negative list bagi Penanaman Modal Asing (PMA), maka sejak itu ritel asing mulai marak masuk ke Indonesia.  Masuknya ritel asing dalam bisnis ini, menunjukkan bisnis ini sangat menguntungkan. Namun di sisi lain, masuknya hypermarket asing yang semakin ekspansif memperluas jaringan gerainya, dapat menjadi ancaman bagi peritel lokal. Peritel asing tidak hanya membuka gerai di Jakarta saja, misalnya Carrefour dalam lima tahun belakangan sudah merambah ke luar Jakarta termasuk ke Yogyakarta, Surabaya, Palembang dan Makassar. Namun saat ini di wilayah DKI pemberian izin minimarket diperketat karena sudah terlalu banyak. 

Keadaan ini mendorong peritel lokal yang sudah lebih dulu menguasai pasar, misalnya Matahari Group yang sebelumnya kuat pada bisnis department store, mengembangkan usahanya memasuki bisnis hypermarket. Demikian juga Hero yang sebelumnya kuat dalam bisnis supermarket, akhirnya ikut bersaing dalam bisnis hypermarket. Bahkan Hero mengubah sejumlah gerai supermarketnya menjadi format hypermarket. 

Hingga saat ini, pangsa pasar modern mencapai 30%, sedangkan pasar tradisional menguasai sekitar 70%. Hal ini menunjukkan peluang bisnis ritel (pasar modern) cukup menjanjikan, setiap tahun selalu muncul dan berdiri gerai baru ritel di kota-kota besar. Saat ini pengusah ritel mulai melebarkan sayap diluar pulau Jawa seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku.  Sementara itu, peritel besar seperti Carrefour dan Giant memiliki pasar ritel lebih luas dibandingkan competitor lain, sebab selain bermain di segmen hypermarket, kedua peritel ini juga bersaing di segmen supermarket. 

Pertumbuhan gerai ritel makanan di hypermarket rata rata 30% per tahun dan supermarket 7% per tahun dan convenience store/mini market sekitar 15%. Pada tahun 2003, penjualan sektor ritel modern makanan dikuasai oleh supermarket 60%, hypermarket 20% dan sisanya 20% oleh convenience store/mini market.
Permintaan produk kebutuhan sehari-hari (consumer goods) masih merupakan permintaan utama. Produk bahan makanan (groceries) mendominasi sekitar 67% komposisi penjualan barang perdagangan ritel. Sementara untuk produk non-pangan, penjualan pakaian dan sepatu memberikan kontribusi sebesar 30% barang perdagangan ritel, diikuti penjualan barang-barang elektronik sebesar 12% dan penjualan produk kesehatan dan kecantikan sebesar 11%.
Format minimarket mengalami pertumbuhan tertinggi, baik dilihat dari sisi jumlah gerai took maupun pangsa perdagangan ritel penjualan produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Jumlah minimarket di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 10.607 toko dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 17,3%, tertinggi dibandingkan format ritel modern lainnya. Disusul dengan pertumbuhan rata-rata per tahun 16,9%. Sementara itu, pangsa perdagangan ritel minimarket untuk penjualan produk FMCG meningkat cukup signifikan dibandingkan format lainnya, yaitu dari sebesar 5% di tahun 2003 menjadi 16% di tahun 2008.


KESIMPULAN
B
isnis Retail terbagi menjadi dua macam, yaitu bisnis retail tradisional dan modern. Namun terjadi persaingan pada  ritel tradisional dan ritel modern, berbeda dengan jenis persaingan yang lain, yaitu persaingan antar sesama ritel modern, persaingan antar sesama ritel tradisional, dan persaingan antar suplier, telah sejak awal menempatkan ritel tradisional pada posisi yang lemah.

Perbedaan karakteristik yang berbanding terbalik semakin memperlemah posisi ritel tradisional. Penguatan kemampuan bersaing ritel tradisional dengan demikian menuntut peran serta banyak pihak terutama pemerintah sebagai pemilik kekuasaan regulasi

B
isnis retail sangatlah berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional. Pada daerah-daerah atau kota-kota besar seperti Jakarta maupun Jawa timur dan Bogor, bisnis retail sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional. Karena hasil dari penghasilan pada bisnis retail tersebut, terlebih pada bisnis retail modern dapat membantu tingkat pendapatan per-kapita daerah tersebut. Bahkan  Jawa Timur menyumbangkan 16% dari penghasilan bisnis retailnya untuk pendapatan nasional.
Maka daripada itu bisnis retail sangatlah menjanjikan dan berpengaruh bagi pertumbuhan perekonomian daerah bahkan nasional untuk meningkatkan pendapatan per-kapita daerahnya. Serta membuka lapangan pekerjaan yang membantu meningkatkan kualitas SDM di daerah tersebut.

B
isnis retail yang signifikan terhadap pertumbuhan pasar rumah tangga, pasar komoditi serta sector swasta adalah bisnis retail modern, yang sekarang telah melonjak tajam. Seperti hypermarket, supermarket maupun minimarket.
            Tahun ini sudah lebih dari 10.000 gerai minimarket tersebar di seluruh Indonesia. Beragam macam perusahaan yang menaruh saham pada bisnis retail ini. Sebut saja Carrefour, Hero, Giant, Hypermart, hingga Alfamart dan Indomaret. Semua pemegang saham sekarang berlomba-lomba untuk membuat bisnis retail ini karena keuntungan yang didapat sangatlah menjanjikan.

DAFTAR PUSTAKA

September 2013
Pengaruh Perkembangan Ritel Modern terhadap Perekonomian Kota – Kota Kecil
PI: Dr. Ir. Myra P. Gunawan, MT
11-09-2008
Potret Bisnis Ritail di Indonesia by Marina L Pandin
Thursday, October 22, 2009
Bisnis Ritel Modern Indonesia

Retno arieswanti hapsarini